KOMUNIKASI POLITIK DI LAMONGAN
Berbagai cara dilakukan para calon legislatif untuk
menggalang massa dan dukungan salah satunya dengan memasang banner di jalan
jalan dan ditempat tempat umum. Hal ini wajar dilakukan dan hampir sering kita
jumpai ketika akan ada pemilihan. Ketika berbicara tentang komunikasi politik
pastilah ada yang ingin disampaikan para calon legislatif ini melalui banner
yang dipasang tersebut misalnya janji-janji atau slogan-slogan yang menonjolkan
dirinya. Pada intinya para calon legislatif ini berlomba menampilkan citra baik
mereka yang belum terbukti.
Salah satu contoh yang saya ambil di lamongan adalah calon
mujianto-sueb yang wajahnya terpampang di pojok perempatan di suatu jalan di
daerah jantung kota
lamongan. Tempat yang strategis untuk memasang banner
karena merupakan jalur utama kearah alun-alun kota lamongan. Calon yang satu
ini berslogan “pejuang wong cilik, jujur dan merakyat” kata yang sangat wajar
untuk calon yang akan maju dalam pemilihan bupati di lamongan pada tanggal 9
desember 2015 mendatang. Namun apakah efektif cara seperti ini ? saya rasa
tidak karena, kebanyakan orang hanya sekilas melihat dan tidak semuanya akan
mengerti bagaimana calon tersebut. Masyarakat tidak tahu bagaimana kepribadian
atau sifat calon yang akan dipilihnya dan juga masyarakat kebanyakan acuh
terhadap banner-banner tersebut. Selain itu, banner-banner seperti itu juga
merusak keindahan kota terutama banner yang dipasang dengan paku di pohon-pohon
yang pastinya merusak kerindangan pohon yang sejatinya adalah tanaman dan bukan
reklame.
Komunikasi yang baik menurut saya yaitu melalui
individu-individu yang dinaungi rasa kekeluargaan bisa dari
seni,budaya,keagamaan, dan kepercayaan lainnya sehingga orang dapat mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar